23 Agustus 2016

Mengenang Masa Lalu, Kembali Ke Gupakan

Yes Outdoor : Ini adalah sebuah kisah tentang camping ceria di sebuah bukit di belakang sekolah kami. Meskipun tidak terlalu tinggi tetapi biasa digunakan sebagai lokasi pertama untuk materi pengenalan medan pada calon anggota muda Gaspala.

Oh iya, seperti biasa saya adalah Den Baguse Hari Satria yang selalu setia menjadi kontributor untuk Yes Outdoor daripada kisahnya menguap tak berbekas, jadi lebih baik berbagi untuk semua pecinta kegiatan outdoor.

Kalau kemarin saya sudah mengirimkan kisah perjalanan Trio Wal Wil Wul ke curug Plumbon maka kali ini ingin membagi kisah dadakan Mengenang Masa Lalu, Kembali Ke Gupakan.

Salah satu aktivitas yang baru-baru ini saya lakukan adalam camping ceria di bukit Gupakan yang terletak dibelakang sekolah kami, SMAN 2 Kebumen.

Mengenang Masa Lalu, Kembali Ke Gupakan

Ceritanya berigini :

Sore itu saya, mengecek notif di BBM. Mak klerab ada PM yang tertulis "Gupakan". Setengah percaya antara sadar gak sadar saya coba pantengin kembali ponsel saya. Apakah ini bener apa cuma mimpi yaa? Tapi bukan mimpi seram haha

Dan.. ternyata ini beneran oii.. Tanpa nunggu lama, saya langsung kirim pesan balik ke si empunya status tadi yang ternyata juga sebagai  pengurus Gaspala saat ini, yaitu dek Sunyi. Oalah deek.. deek..  namamu kok sunyi? Sunyi senyap bukan ya? Kaya malam-malam di hutan gunung Salak, pasti sunyi. Hanya ada suara binatang malam haha..

Sedikit obrolannya nih :

Saya  : "Bener mau ke gupakan? Aku ikut lah..hahaha."
Sunyi : "Ayok mas, tapi lagi berdua nih, kata mba Hanum minimal bertiga baru mau."
Saya  : "Gamplis itu sih, tinggal woro2 aja ntar juga pada ngikut"
Sunyi : "Oke mas, ntar jam berapa mau kumpulnya?"
Saya  : "Jam 8 aja abis isya di smanda ya..."
Sunyi :"Oke mas".

Berikutnya Saya  langsung siap-siap packing, karena waktu itu sudah jam 5 sore bro! Gak lupajuga saya langsung Update Status BBM. Biar calon peminat yang lain juga tahu kalau malam itu mau ada acara camping semalam di Gupakan.

Mengenang masa lalu, kembali ke gupakan
Salah satu pemandangan pagi di Gupakan

Nah bener juga kan?

Ternyata bener kan? Ada satu peserta yang nanyain kebenaran kabar tersebut dan kebetulan juga dia masih aktif sebagai pengurus Gaspala, Laras.

Laras  : "Jadi ke Gupakan mas?"
Saya   : "Insha Allah jadi. Ikut?"wkwkwk
Laras  : "Ntar tak ijin dulu ya"
Saya   : "Okeee"

Gak lama dia bbm lg tuh

Laras : "asik aku boleh ikut. Jane tadi dibilang sama bapak kalo gak kegiatan wajib mending ga usah, tapi aku bilang mau nemenin Sunyi biar gak kesepian, karena di runah lagi mau ada wayang kulit soale."
Saya : "Wkwkwk dasar! Tak laporken bapakmu ya?"

Syukurlah, akhirnya pesertanya bertambah satu lagi deh.

Tapi ngomong-ngomong saya adalah peserta cowo sendiri nih! Paling senior alias paling tua pula berdasarkan data KTP.. hahaha. Gpp lah, karena saya sendiri sudah lama banget gak ke Gupakan. Terakhir kesana adalah pada tahun 2012 deh seinget saya.. pas belum ubanan wkwkk.


Malam itu

Oke, waktu udah jam 7 malem, saya sudah selesai packing tuh. Untuk perjalanan malam, tentunya tidak boleh ketinggalan membawa alat penerangan.

Saya membawa  :

  • Senter
  • Flyshet
  • Mantol
  • Beberapa makanan ringan
  • Air mineral
  • Peralatan masak memasak. 


Mau pesta katanya sih...

Jam 8 malam saya otw ke Smanda, sempet mampir di warung untuk beli batu batre, snack, minuman sachet, kelengkeng, juga martabak manis hahaha..

Sesampainya di sekolah ternyata disana sudah ada 2 orang peserta, yaitu Sunyi dan Laras. Kita masih nunggu yang lain pada datang, sambil packing beberapa alat seperti tenda dome, kompor,bmatras.

Oalah ternyata tenda domenya ga ada yang bisa dipake euy.. rusak semua!  Ngenes banget... 90% frame patah dan tertukar tukar.

Beberapa teman juga mulai berdatangan.  Diantaranya Hanum Gsp22 yang mengajak adeknya, si Dinda .Terus ada juga Wuri Gsp22 yang juga adeknya Beni Gsp10, Egi ( teman seangkatan Hanum dan Wuri). Waduh, kegantengan saya mulai tertandingin nih wkkk

Sambil ngobrol sana sini, kita ber tujuh akhirnya siap berangkat. Tapi rupanya ada yang mau ikut juga tuh. Dengan kesepakatan, akhirnya kami menunggu mereka yang ternyata si Agil Gsp21, Farhan Gsp 21 dan Riski Gsp 23.

Akhirnya tepat jam 22:15 kami 10 orang berangkat menuju Gupakan dengan berjalan kaki beberapa langkah untuk selanjutnya naik montor ke arah Gupakan. Sebelum sampai di jalur pendakian, motor kami titipkan di salah seorang alumni gaspala di desa Karang Tanjung yaitu bro Wahyu Gsp17.

Sebenarnya kami mau menitipkan montor di rumah mas Amin ya Sbnrnya rncana awal mau mampir dan titip motor d dmh mas amin yang juga anggota tentara dan merupakan Gsp10, tapi karena udah terlalu malam jadinya kami gak enak kalau tetap ke sana.

Nah, itu dia yang namanya Plan A gak jalan, kita jalankan Plan B

Sampai rumah Wahyu, saya sampaikan maksud dan tujuan kami wkwkwkw.. intinya nitip montor deh. Saya ajak dia, tapinya gak mau dengan alasan lagi pengin di rumah. Dia menyarankan agar kami naik melalui jalur biasa aja, jangan lewat yang Watuanda. Okedeh bro..trims yah.. ( Angker kali ya? wkkk ancul.. ancul.. )

Pendakian Malam


Mengenang Masa Lalu, Kembali Ke Gupakan
ups.. mau ikut? serius masih mau kesana?

Kami berangkat diawali dengan berdoa dan selanjutnya senter mulai dinyalakan.

Selepas jalan aspal, melewati pematang sawah. kemudian masuk perkebunan. Smpailah kami di irigasi sebagai "Gerbang Pendakian" ke Gupakan. Dilokasi tersebut kami berhenti untuk memastikan bahwa semua dalam kondisi oke!

Medan awal berupa batuan (gatau jenisnya deh. Intinya batu yang lumayan licin kalau basah hahaha...)

Buseeet.. semaknya udah tinggi tinggi broo.. seprtinya lama gak dilewati nih! Terbukti dengan banyak menempelnya duri-duri atau apalah namanya di pakaian dan celana saya.

Selain itu banyak pula sarang anggang-anggang alias laba-laba juga hiii... wkkk.. Tapi biarlah semua itu gak usah terlalu dihraukan, ka re na malam itu adalah Malam Bulan Purnama  dan perjalanan sedikit terbantu dengan sinar yang menerangi jalan kami dan rasanya tuh sejuuuk deh haha.. sejuk dimata bro!

Hampir 3/4 perjalanan saya sempat bingung dengan jalur yang harus dilalui tuh karena memang benar-benar tertutup. Asli, jalurnya ketutup semak dan tumbuhan liar. Hmm benar juga info dari Aldila Gsp24 yang gak jadi ikut.

Buset dah, bener juga tebakan kang jo kalau jalurnya ketutup semak, padahal dia kan berada di tempat yang jauh dari Gupakan ya? wkkk.. slendem!

Dalam kondisi demikian, kami semua sepakat berhenti sejenak. Selanjutnya melakukan reorientasi dan saya coba mencari jalur. Alhamdulillah, menemukan juga jalur yang benar untuk dilalui! Ternyata memang sudah banyak sekali perubahan yang terjadi!

Yang gak berubah mungkin ciweknya kang Maman dan manjanya itu loh, yang penginnya minta dijemput kalau pas lagi mudik. Anu langka duite apa memang dia penakut tingkat dewa mabok mendoan ya? wkkk..

Akhirnya tepat pukul  00.15 kami sampai di puncak Gupakan. Lega rasanya !. Kami bongkar isi tas, gelar matras dan mulai istirahat sambil menikmati makanan ringan disertai obrolan haha hihi...

Mungkin karena kecapean dan malam yang sudah larut pula, tak terasa satu per satu mulai terlelap. Saya sendiri juga ngantuk. Ups.. ngantuk dilarang nyetir! Nyetir dilarang ngantuk! 

Tidur duluan yaa...hoam.. meninggalkan mereka yang masih asik ngbrol ditemani api unggun dan sinar bulan. Entah ada cerita apa malam itu, aku gak tahu karena memang  sudah ada di alam bawah sadar

Paginya... setelah shubuhan, kami gak banyak kegiatan karena emang gak niat masak sarapan. Cuma sekedar makan biskuit dan snack serta susu kotak. Sedikit foto-foto, bersih-bersih sampah hingga pukul 7:30 akhirnya  kami turun melewati jalur yang berbeda dengan  jalur ketika kami naik semalam, karena menghindari semak belukar hehehe.... Bukan ding.. intinya sih biar gak jenuh!

Tentunya ada sedikit pelajaran dari kisah diatas. Ketika kita merencanakan suatu perjalanan, memang perlu mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang tempat yang akan kita tuju.

Selain itu kita juga harus mempersiapkan segala kebutuhan untuk perjalanan yang akan kita lakukan. Dan.. harus juga ingat dengan teman kita. Gak usah egois untuk segera jelan dan jadi yang nomor satu sampai, jika memang dibelakang masih ada teman yang menyusul. Bagaimanapun, mereka adalah saudara dan memiliki minat yang sama dengan kita!

Hmm.. dalem juga ya? Sekedar mengingatkan kembali nih, bahwa
Gupakan sudah seperti rumah kedua bagi Gaspala, rumah pertama ya di Posko. Hahaha... Dari Gupakan kita bisa melihat keindahan kota Kebumen, meskipun saat ini agak sedikit terhalang oleh tingginya pohon jati
Saya Den Baguse Hari Satria Melaporkan. Oh ya kalau mau berteman dengan saya, langsung aja kesini :)

15 Agustus 2016

Ini Curhat Tentang Pendaki Gunung

Yes Outdoor : Ngomongin tentang mendaki gunung seolah hampir tiada berbats. Makanya gak pernah cukup waktu untuk membicarakan aktivitas yang kini semakin banyak digemari orang ini.

Saat kita berkumpul dengan para pegiat aktivitas ini, katakanlah para pendaki maka bergelas-gelas kopi bisa jadi tidak terasa telah habis ataupun dingin.

Atau bisa juga sampai malam berganti pagi obrolan belum juga tuntas, hanya mata saja yang tak kuasa bertahan untuk terus melanjutkan obrolan tersebut.

Banyak hal positive yang bisa didapat dari aktivitas pendakian. Itu pasti! Meskipun sekarang juga tak jarang kita mendengar mulai marak efek negativ dari aktivitas para pendaki gunung.

Yang banyak mendapat sorotan adalah masalah sampah sebagai cermin kesadaran mereka untuk mau menjaga kelestarian alam. Ingat, sampah non organik akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa terurai.

Adalagi makin banyaknya korban yang celaka ataupun sampai meninggal di gunung. Sangat ironis sekali menghadapi kenyataan ini.

Bila sedikit mau menganalisa, salah satu sebabnya adalah skill dan persiapan yang tidak memadai untuk melakukan pendakian.

Ingat, mendaki gunung itu membutuhkan skill khusus yang ditunjang oleh peralatan dan persiapan fisik maupun mental yang sempurna. Bahkan tidak sekedar segitu, karena harus ditunjang dengan management yang baik pula.

Jika para pendaki jaman dulu kebanyakan mereka berangkat dari satu kelompok oraganisasi pecinta alam, baik itu sispala, mapala maupun organisasi pecinta alam dan pendaki gunung yang bersifat umum.

Mereka memiliki mekanisme yang jelas dan diberlakukan bagi seluruh anggotanya sebelum benar-benar bisa bergabung dengan organisasi atau kelompok tersebut dan mengikuti berbagai macam pendakian yang mereka lakukan.

Artinya, semua mendapatkan materi yang menunjang kegiatan pendakian gunung maupun aktivitas outdoor lain seperti navigasi darat, survival, botani, caving, arung jeram dan lain sebagainya.

Yang gak ketinggalan adalah materi tentang bagaimana cara menghargai dan mencintai alam seperti yang disepakati bersama dalam sebuah Kode etik Pecinta Alam! 

Saya salah satu yang percaya bahwa saat ini banyak pendaki yang jadi korban eksistensi di sosial media yang tergiur oleh keren dan indahnya foto-foto di ketinggian.

Ini Curhat Tentang Pendaki Gunung
Naik gunung tidak selalu tentang keindahan, ada kalanya tentang usaha untuk bertahan hidup
Gak ada salahnya sih dengan hal itu, selama bekal ilmu dan semua hal terkait aktivitas pendakian terpenuhi. Ingat! Gak sekedar ilmu, tapi harus didukung juga oleh persiapan mental dan fisik yang sempurna seta management yang baik berlandaskan Kode Etik Pecinta Alam.
Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah bisa mendapatkan pelajaran dari pendakian yang kita lakukan, kecuali hanya foto-foto eksis dan ucapan suka, Like!

Ingatlah kita mendaki gunung yang nantinya juga akan didaki oleh sangat banyak orang lain yang tidak semuanya kita kenal. Salah satu yang ingin mereka nikmati adalah keindahan alam.

Dari setiap pendakian sudah seharusnya kita bisa membangun karakter yang baik, kuat, memiliki jiwa sosial dan kebersamaan yang tinggi serta memiliki kesadaran bahwa alam ini tercipta tidak hanya untuk kita nikmati, tapi banyak orang lain juga ingin menikmati alam yang asri dan tidak rusak! Artinya setiap orang memiliki tanggung jawab untuk membuatnya tetap lestari!

Jadi mulai sekarang, mari kita bersama-sama menanamkan kesadaran pada diri sendiri untuk jadi seorang pendaki yang peduli dan bisa belajar dari setiap pendakiannya.

Nah untuk para pendaki karena korban sosial media, jika memang alam telah menjadi satu tujuan dan pilihan, maka jangan ragu dan sungkan untuk belajar bersama dan ikut dalam suatu club, komunitas maupun organisasi pndaki gunung atau pecinta alam.

Karena kita tidak akan cukup hanya berbekal informasi untuk sampai ke gunung lalu mendakinya tanpa memiliki bekal ilmu dan pengetahuan tentang pendakian yang memadai. Bisa jadi malah akan menjadi korban-korban berikutnya yang  menambah daftar panjang raport merah pendakian di Indonesia.

Untuk mendapatkan berbagai ilmu pendukung kita juga bisa mengikuti bermacam kursus singkat yang banyak diselenggarakan oleh berbagai fihak yang aktiv dalam kegiatan alam bebas.

Sosial media? Bolehlah kita aktif dan mengumpulkan info dari sana, tapi jangan selalu berharap mendapatkan ilmu dan pengalaman dari sana. Sangat sedikit yang kita peroleh jika hanya mengandalkan obroldan di sosial media ( yang terkadang liar dengan sedikit solusi ), kecuali informasi jualan peralatan pendakian maupun info open trip :)

14 Agustus 2016

Trip Curug Plumbon Bersama Trio Wal Wil Wul

Yes Outdoor : Kebumen tuh memiliki banyak lokasi menarik untuk dikunjungi dan dinikmati keindahannya. Mulai dari pantai, gua, waduk atau bendungan, bukit-bukit, sejarah serta tentunya kuliner.

Hal tersebut semakin nyaman untuk dinikmati karena didukung oleh  kultur masyarakatnya yang ramah. Semua itu bisa dinikmati jika kita berkesempatan untuk mengunjungi daerah yang berada di pesisir selatan Jawa Tengah.

Itulah sekilas tentang potensi yang ada di Kebumen seperti yang diungkapkan oleh bro Hari. Kebetulan dia baru saja mengunjungi salah satu lokasi menarik dan menawarkan keindahan alam.

Berikut catpernya :

Sebelumnya saya pernah berbagi kisah tentang ngetrip ke curug Sikebut di kawasan Karanggayam. Kali ini saya coba untuk sedikit berkisah tentang perjalanan ke curug Plumbon.

Curug Plumbon
Curug Plumbon
Weekend kali ini saya mengunjungi sebuah curug di Kebumen, namanya biasa disebut dengan curug Plumbon, mungkin mengambil kata dari desa dimana curug itu berada. Lokasi curug tersebut tepatnya berada di desa Plumbon Kecamatan Karangsambung.

Nah, trip kali ini dimotori oleh beberapa alumni Gaspala yang tentunya tergabung dalam Sigma. Kami berangkat pada Minggu pagi, sesuai rencana kami untuk berkumpul di SMAN 2 Kebumen.

Meskipun meleset dari jadwal semula untuk start jam 9 menjadi jam 10 tetapi ini masih bisa ditolerir. Maklumlah, kebiasaan kebanyakan dari orang kita yang fleksible haha.. Asli, itu bukan contoh yang baik.

Saya sendiri lebih memilih untuk jadi yang terdepan, on time dan menjunjung tinggi kesepakatan yang telah diambil bersama, supaya tidak menciderai perasaan teman-teman yang datang tepat waktu. Minimal saya tidak mengecewakan mereka karena datang jam 11, misalnya haha.. Meskipun saya datang ke SMAN 2 sendirian tanpa ada yang menemani.

Oh ya ding, sebenarnya saat saya tiba di SMAN 2, disana telah hadir dua orang yang sugguh tidak asing. Imam Kuncoro dan Septi. Dalam fikiran saya terbersit kata

"Wah mereka datang on time. Mungkin malah mereka datang bersamaan. Apa mereka sedang ada hubungan khusus ya? Sehingga jadi sangat bersemangat? "
Wkk.. sedikit liar yah fikiran saya tadi. Mungkin ini karena teringat keisengan dari kang Jo yang ngerubah Dp BBM saya menjadi Jomblo Grade Ori wkkk. Padahal saat itu saya masang gambar jersey tim sepakbola dan kebetulan saya juga jualan itu. Jadi kalau berminat bisalah melalui japri haha..

Curug Plumbon
Cek waktu. Harus On Tiime

Asem, saya jadi orang terakhir yang datang di SMAN 2 Kebumen pagi itu!  Setelah ngobrol sana sini, Wal Wil Wul,  has hes hos sambil bernostalgia dengan suasana Smanda dan Posko gaspala, akhirnya pada 10:30 kami bertiga berangkat dengan penuh semangat.  Emang gak banyak peserta sih, karena banyak yang berhalangan, jadi ya cuma kami bertiga yang melakukan perjalanan ke curug Plumbon.

Enf Ing Eng.. pagi itu kami mulai meluncur ke lokasi melalui jalur pintas yaitu  dengan memilih jalur timur SMANDA. Kendaraan kami pacu melalui Jatimulyo, Tanuharjo, Kalijaya, Krakal. Oh ya, Krakal itu terkenal dengan pemandian air panasnya. Dan jika kita naik bukit di belakang pemandian, maka kita akan disuguhi pemandangan indah pantai selatan Kebumen.

Nah, saat sampai di pasar Krakal kami berhenti sejenak untuk mengisi bengsin. Ups.. bengsin apa bensin ya? Lebih amannya, saya gunakan kata bahan bakar deh haha. Perlu diketahui bersama, motor saya tidak diisi saat itu karena masih full, kan saya bisa isi sendiri di Pom Bensin saya dekat pasar Kewayuhan haha..

Selepas isi bahan bakar, kami melalui jalur yang mulai menanjak  melewati beberapa desa dan area persawahan yang emang luas banget pokokelah! Pemandangan asli indah banget, hamparan sawah dan ketika kami mulai sampai di  desa Wadasmalang, disana dengan annggunnya nampak sebuah aliran sungai.

Menuju Curug Plumbon
Menuju Curug Plumbon
Cek waktu menggunakan jam tangan, ternyata saat 11 siang kami telah sampai di sebuah pertigaan pasar Plumbon. Asli sebuah perjalanan yang enak untuk dinikmati. Terlebih dalam beberapa hari ini Kebumen bercuaca hujan dan mendung, hingga hawa panas banyak tereduksi oleh cuaca dan suhu yang sejuk.

Kami meminta ijin dan sekaligus laporan pada seorang pemilik warung, bahwa kami bertiga akan menuju ke Curug Plumbon. Tanpa banya basa basi dan ba bi bu, kami bertiga segera menuju lokasi.

Gak harus berjalan jauh, kami bertiga melangkahkan kaki menyusuri sungai, sekitar 300 meter, sampailah kami di lokasi dengan kaki yang "Gupak Belet" alias berlumuran lumpur. Dekat kan?  Dan tentunya tidak melelahkan apalagi menyita banyak waktu seperti saat saya montoran dari Kebumen ke Bandung haha.

Ternyata saat kami berara di lokasi, disana ada beberapa orang lain yang juga menikmati suasana curug Plumbon. Bahkan mandi disana. Mungkin biar afdhol kali ya?

Kami cuek aja sih dan gak ngerasa terganggu apalagi berniat mengganggu mereka. Sing penting jeprat jepret tidak ketinggalan. Untuk apa? Ya untuk mengabadikan suasana dan oleh-oleh untuk Yes Outdoor haha.

Curug Plumbon
Kedung Curug Plumbon, Lantai Atas Haha..
Sebenarnya saya ingin segera mandi. Maklum dari pagi sengaja gak mandi. Tapi saya menahan diri untuk tidak mandi dilokasi itu, karena saya punya lokasi favorit untuk mandi dan menikmati suasana Curug Plumbon. Kalau saya jadi bidadari mungkin akan sering mandi di curug ini deh.. haha.

Lokasi favorit saya untuk mandi berada sedikit di atas sih. Tapi asli, tempatnya asyik banget, karena memiliki satu spot dengan kedalaman yang lumayanlah. Orang sini biasa menyebutnya sebagai kedung.

Alhasil, kami cuma sebentar saja berada di lokasi pertama ini dan melanjutkan ke kedung yang saya maksud dengan menyusuri kembali sungai dan naik lewat kebun penduduk wkkkk.

Eit, kalau ada yang ngikutin jalur saya, mohon jangan melakukan tindakan yang merugikan pemilik kebun haha. Asli, ini himbauan serius!

Oh ya, ada info dari pemilik warung bahwa disana banyak taneman jati dll yang rusak karena digunakan untuk berpegangan. Hal ini pastinya sangat disayangkan. Maafkan kami ya pak.. bu...

Jika ingin potong kompas, tentunya akan sedikit susah juga, karena kebetulan  medannya terasiring dengan beda ketinggian sekitar 1meter. Ada lagi jalur yang   becek becek gak ada ojek. Tambah gupak belet lagi deh kakiku... hohoho... cuma becanda. Kalau kang Jo kan naik gunung suka ngojek juga tuh haha..

Naaah, setelah brjalan sebentar (gak ada 15 menit deh) akhirnya kami, Trio Wal Wil Wul sampai di lokasi yang pas buat slibon alias mandi hahaha. Tapi karena waktu hampir masuk dhuhur, saya memilih untuk menunggu sebentar alias gak langsung nyemplung bro! Takut digigit ular atau diculik dedemit hahaha... becanda ya...

Menuju Curug Plumbon
Trio Wal Wil Wul di Curug Plumbon
Setelahnya, Imam yang nyemplung duluan karena dia tuh ahli menyelam dan sering keluar masuk air di Natuna sana hahahha. Survey dulu maksudnya bro. Saya kan gak piawai berenang, padahal rumah deket kali Lukulo. Aiih jadi malu sama kang Jo  yang jago berenang wkkkk...

Yuk kita lirik si Septi.

Hmm.. rupanya dia sedang asyik jeprat jepret. katanya lagi males berbasah-basahan haha.. Selanjutnya, ketika waktu sudah pas dan menerima info dari Imam, saya segera menceburkan diri.. nyemplung.. plung.. meski harus jalan pelan-pelan takut kepleset, karena memang licin. Maklumlah, efek lumut, jadi jalannya sampai lumutan wkkk

Akhirnya basah juga saya di kedalaman 150 - 180 Cm mungkin ya? Gak terlalu dalam tapi cukuplah untuk menikmati airnya. Asyik banget dah renangnya. Foto lagi dong fotooooo... sampai merasa cukup foto dan renangnya. Mungkin ada lebih dari 30 menit kami disana.

Sekitar 12:30 kami sepakat untuk kembali ke parkiran montor. Ups.. sempat kami melihat ular. Sepertinya ular rangon sih, tapi gapapa.. amanlah. Sampai di parkiran kami bertemu rombongan keluarga yang juga inging ke curug tapi sempat nyasar. Kasihan juga, kalau tadi kami tahu, tentunya bisa saya pandu tuh mereka ke curugnya wkkk..

Sampai juga kami di warung tadi. Segera kami memesan kopi, makan gorengan dan gak lupa bayar parkir bro. Gak cuma itu tentunya, karena kami juga terlibat obrolan yang asyik disana. Adalah sedikit pengetahuan yang didapat tentang daerah sana. Berapa sih yang harus dibayar? Kopi 2 ribu. Gorengan seribu, parkir motor 2 ribuan. Terhitung murahlah.

Setelah dirasa cukup, akhirnya kami pamit dan pulang dengan mengambil rute lain biar gak bosen sekaligus menikmati pemandangan yang berbeda. kami putuskan untuk melewati jalur Kaligending.

Sekian trip singkat hari ini yang juga bertepatan sama Hari Pramuka. Duuh jadi inget dengan PDW 2016 yang gak lepas dari kisah di  Taman Pramuka. Hiks hiks. Selamat hari pramuka..!

10 Agustus 2016

Ironisme Pendaki Gunung Sekarang

Yes Outdoor :Perkembangan pendakian gunung saat ini memang bisa dikatakan pesat. Sayangnya tidak semua penggiat olahraga ini  berangkat dari satu pandangan yang sama untuk menjadi seorang pendaki yang  smart dan bisa membuat seuatu pendakian sebagai sebuah pelajaran yang bisa diperoleh dari alam untuk kita dan untuk sesama penggiatan olahraga ini.

Ada sebuah kegelisahan dari seorang Kang Bayu :) yang merupakan salah satu pendaki senior yang punya motivasi tinggi dan punya semangat juang dan masih aktif  dan terbuka untuk berbagi tentang ilmu pendakian maupun aktivitas alam liar lainnya dalam sebuah  Ironisme Pendaki Gunung Sekarang.

Ironisme Pendaki Gunung Sekarang
Ilustrasi :Theatrical "Manusia & Bumi "
By Ngablu Adventure, pada acara silaturahim PGI korwil Jabodetabek "Edukasi Berbalut Konservasi"

Mendaki gunung adalah kegiatan yang menyenangkan sekaligus menengangkan, dibutuhkan banyak persiapan secara fisik dan mental. Mendaki gunung tidaklah mudah, seseorang harus mempunyai disiplin ilmu serta fisik yang memadai. 

Kegiatan ini diminati oleh siapa saja, semua kalangan yang mempunyai jiwa berpetualang dan kesadaran tinggi atas hakikat manusia terhadap alam, mengukur seberapa jauh kemampuan diri sendiri.

Mendaki gunung selalu menjadi sarana melepas emosi, merendahkan hati terhadap tuhan sang pencipta alam, membuang sifat angkuh dan sombong, memperkuat kerjasama tim sesama pendaki serta membuat manusia sadar secara naluriah.

Seseorang yang ingin mendaki gunung harus tau betul persiapan apa yang harus dipenuhi sebelum mulai mendaki, mulai dari : kesiapan mental dan fisik, pengetahuan tentang alam, manajemen emosi, kerjasama tim, dan sebagainya yang menunjang kegiatan alam. 

Disiplin adalah hal yang sangat essensial dalam mendaki, seseorang yang tidak disiplin secara mental tentu akan menyusahkan diri sendiri atau kelompoknya. Disiplin tentunya juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sampai hal yang terkecil sekalipun. 

Karena itu lahirlah sebuah kode etik pemuda pencinta alam se-Indonesia yang sadar bahwa alam raya ini adalah tanggung jawab kita sebagai manusia kepada tuhan, bangsa dan tanah air.

Dahulu olahraga ini hanya diminati oleh sebagian orang saja, karena alasan diatas tadi. Sekarang siapa saja bisa menikmati olahraga ini bahkan orang yang tidak tau aturan sekalipun. Kita sekarang banyak menemukan sampah berserakan, coretan yang menggunakan bahan permanen dan perilaku jahil para pendaki. 

Bahkan gunung kini pun dijadikan sarana bisnis bagi warga penduduk setempat sebagai porter mungkin ini salah satu dampak positifnya. Beberapa bulan lalu sebelum saya membuat tulisan ini, muncul film lokal yang berbasis novel tentang pendakian yang banyak dikritik para pencinta alam. 

Karenanya banyak korban kelabilan dari film tersebut, mendengar cerita dari penjaga pos beberapa gunung secara langsung dan lewat forum, katanya :

“Dengan entengnya pemuda dan pemudi labil bermental feodal masuk gunung tanpa aturan karena terpengaruh romantisme film tersebut. Dengan barang bawaan seadanya tanpa perencanaan mereka menyewa porter lalu mendaki, pada akhirnya beberapa dari mereka banyak yang celaka.”  

Begitulah kabar yang beredar, kita tidak bisa juga menyalahkan film (realitas yang dibuat tanpa konsep alami) akan tetapi dari para individu masing-masing.

Sekali lagi perlu disadari bahwa gunung adalah tempat kehidupan alami dari banyak makhluk hidup yang ada di dalamnya, Alam raya mesti dijaga dan dilestarikan. Kritik ini bukan secara objektif menyudutkan film tersebut akan tetapi lebih kepada mental individu pendaki.

Ironisnya budaya seperti ini tidak hanya terjadi di gunung saja, namun kita lihat kehidupan masyarakat kita yang semerawut tanpa aturan. Hal sederhana ini mencerminkan pola kehidupan yang sebenarnya dari masyarakat kita. Padahal dahulu kala orang timur adalah bangsa-bangsa yang paling menghargai alam. 

Dalam setiap aktivitas yang kita lakukan pasti berhubungan dengan seni agar keasliannya tetap terjaga secara natural dan segala aturan yang melekat pada objeknya, begitu juga mendaki gunung, diperlukan pemahaman akan seni mendaki. Bagaimana menciptakan aturan main tersendiri berdasarkan hakikat kita sebagai manusia sesungguhnya yang membaur dengan alam. 

Begitulah kondisi gunung sekarang dan kedepannya apabila manusia tidak punya aturan dan sikap menjaganya. tentunya kita berharap agar terciptanya kesadaran dalam kegiatan apapun.

Dengan adanya tulisan yang singkat ini saya berharap para pendaki kemudian menyadari dan menghormati tata kehidupan yang ada pada alam sekitar bukan hanya di gunung saja ! 

Karena sejatinya kehidupan di alam bebas seharusnya membuat manusia rendah hati terhadap sang pencipta, tempat membuang mental sombong dan angkuh. 

Sekali lagi, manusia menjadi salah satu faktor penentu bagaima alam kita kedepannya. “Jagalah alam maka alam akan menjagamu.”

04 Agustus 2016

Pendakian Merbabu Via Selo - Part 2

Yes Outdoor : Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi ketika kami berempat selesai packing. Selanjutnya kami minta ijin / pamit untuk mendaki kepada pak Sunar yang saat itu kebetulan ada di halaman depan.

Sebelum melakukan pendakian, kami berempat memulainya dengan berdo'a bersama. Ini adalah salah satu prosedur yang biasa dilakukan supaya pendakian kita berjalan dengan lancar dan sukses. Karena gunung Merbabu via Selo ini sungguh indah sekali pemandangannya.

Berdo'a Selesai
Merupakan kalimat pertama yang mengiringi langkah kami menuju ke jalur pendakian. Track pertama yang dilalui berupa jalan setapak sekitar 1 km menuju bukin Gancik. Dengan track yang lumayan nanjak, sepertinya kami dipaksa untuk langsung mengerahkan segala kekuatan yang ada.

Ciaat.. ciaat.. langkah demi langkah kami susuri jalur tersebut dengan nafas yang boros hingga merasa lega saat sampai di bukit Gancik. Bukit gancik sendiri merupakan sebuah lokasi wisata yang tengah dibangun oleh penduduk setempat.

Panorama pendakian gunung merbabu via Selo
Panorama pendakian gunung merbabu via Selo - Track ke puncak setelang Watu Lumpang

Dari lokasi tersebut nampaklah hamparan area luas diantara Merapi dan Merbabu. Disana kita sempatkan untuk istirahat sekitar 15 menit sambil mengabadikan moment awal pendakian Merbabu kali ini di bukit Gancik.

Jalur setelah bukit Gancik adalah jalan setapak yang landai diantara ladang penduduk dan juga kawasan hutan milih perhutani. Datarnya benar-benar memanjakan kaki untuk melangkah. Tapi tetap aja sesekali kita istirahat.

Belum juga setengah jam kita berjalan diarea tersebut, terdengarlah raungan mesin motor dibelakang kita. Rupanya ada segerombolah penduduk setempat mengendarai motor ke Pos 1 untuk mempersiapkan perkemahan untuk pendaki dari Belanda yang ingin menjadi saksi keindahan gunung Merbabu.

Kami beri mereka jalan untuk melanjutkan sampai ke Pos 1 dimana motor-motor tersebut akan diparkir semalaman. Setelah semua motor lewat, kami lanjutkan perjalanan. Gak sampai 10 menit, sampailah di Pos 1.

Istirahat asyik saat turun gunung
Wow penuh gaya mereka deh :) Istirahat asyik saat turun gunung
Ternyata disana masih ada para pemotor tadi. Mungkin mereka sedang menunggu kami, atau mau minta foto bareng saya hahaha.. Sempat ngobrol dengan mereka dan mendapatkan informasi seputar misi mereka untuk mendirikan perkemahan dibawah bukit Teletubies untuk turis manca.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan dengan membawa banyak peralatan dan bekal yang pastinya berat. Tapi cepat sekali pergerakan mereka hingga hilang disebuah belokan. Kemudian suara mereka pun ikut hilang ditelan heningnya suasana waktu itu.

Matahari mulai terik, ketika kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 2. Oh ya medan menuju Pos 2 sebenarnya enak untuk dilalui, apalagi tracknya termasuk masih baru dan tidak terlalu nanjak. Cukup banyak bonus bisa kita jumpai disana.

Persiapan menjamu pendaki asing di Merbabu
Porter lokal mempersiapkan fasilitas untuk pendaki Asing nih
Setengah jam perjalanan, sampailah kita di Pos 2. Perjalanan menjelang Pos 2 ini mengingatkan rute pendakian di Semeru dah. Hmm.. Semeru.  Gak harus beristirahat, saya coba mengabadikan moment kami melintasi track itu, hingga semua tim melewatinya dan melanjutkan perjalanan menuju ke bukit Teletubies.

Rupanya di dekat Pos 2 itu, kami melihat sekelompok orang penduduk tadi sedang mempersiapkan tenda-tenda yang tadi diceritakan. Dalam hati, mewah juga nih perkemahannya. Lihat foto aja ya :)

Saya sempatkan untuk ngobrol sekitar 15 menit, meskipun 3 orang lainnya tetap melanjutkan perjalanan dan nampak telah sampai di tengah bukit. Akhirnya karena gak mau tertinggal semakin jauh, saya kembali melanjutkan perjalanan untuk menyusul mereka.

Menyusuri track yang terbuka dan menanjak, sampailah kami dipuncak bukit Teletubies. Dari sana perjalanan dilanjutkan melalui track yang menurun dan berakhir di Pos 3.

Tenda untuk pendaki luar negeri di Merbabu
Nampak tenda dengan fasilitas kasur & bantal angin. Pasti nyaman  deh :)

Pos 3 Batu Tulis 

Pos 3 merupakan area yang cukup luas dan merupakan pertemuan jalur ke Selo (Lama). Banyak sekali tenda berdiri disana. Sepertinya milik para pendaki yang mendaki kemarin.

Karena hari mulai beranjak siang, maka kami putuskan untuk istirahat dan masak siang. Tapi rupanya gak cukup sampai disitu, saat melihat track setelah Pos 3 ini yang cukup menantang dan pasti butuh konsentrasi tinggi serta fisik extra, maka saya memutuskan untuk mendirikan tenda disana dan akan melanjutkan perjalanan pada pagi harinya.

Sementara itu Rizky dan Singgih ( demikian nama dua pendaki asal Halmahera dan Pare Pare tersebut ) berniat akan kembali melakukan perjalanan pada pukul 10 malam.

Meja kursi outdoor di Merbabu
Meja dan kursi-kursi ini diletakkan tepat menghadap gunung Merapi. Keren View-nya

Pasang  Tenda - Masak - Nimatin Sunset - Nikmatin Malam Dengan Api Unggun

Setelah mendapatkan lokasi ideal yang memang untuk mendirikan tenda, segera kami berempat memasang tenda yang berdekatan. Gak sampai 30 menit tenda telah berdiri dan barang-barang di bongkar.

Acara selanjutnya adalah masak untuk makan siang yang berlangsung beberapa lama sampai benar-benar siap saji. Tapi ada sebuah trouble dengan Rizky dan Singgih yang kompornya bermasalah. Sudah dicoba perbaiki dan tak mendapatkan hasil.

Dari sana ada sesuatu yang bikin saya sigap menanyakan. "Rizky, apa kamu terbiasa bikin api di kampung sana?" karena dalam situasi tersebut dia dengan cekatan cari ranting-ranting kering dan menyalakan api hingga jadi untuk kemudian memasak dengan kayu bakar.

Rizky anak Halmahera sedang beraksi jadi koki :) masak pakai kayu bakar
Segeralah kita kasih mereka kompor dan gas yang baru saja digunakan supaya mereka bisa cepat masak. Gak cuma nasi tapi juga menu tambahan. Sambil menunggu mereka masak, kopi panas telah tersaji dan dibagikan untuk sekedar menghangatkan perut dan ngurangin stress :) haha.. sigak juga nih koki nya. Siapa lagi kalau bukan Neng Rini :) trims.. cantik.

Jadilah kami nikmati siang itu dengan makan menu sederhana dilanjutkan bersantai sampai sore bahkan menjelang senja. Banyak juga para pendaki yang naik atau turun hari itu. Beberapa rombongan sempat ngobrol santai dengan kami.

Saat menjelang sunset dengan cuaca cerah tidak kami sia-siakan untuk mengabadikan moment disana. Dengan bermodal tripod banyak pose kami coba bidik. Klik.. klik.. klik..

Berfoto saat senja
Dengan bantuan tripod, kita ambil foto nih di puncak bukit Teletubies saat menjelang senja

Selanjutnya adalah acara malam, dengan bikin api unggun setelah bergerilya mencari kayu-kayu dan ranting kering dan tentunya gak lupa santap malam.

Zzzz... malam itu sebenarnya tidak terlalu berasa dingin tapi sepertinya ketiga rekanku merasa hawa dingin yang membuat istirahat malam seperti kurang sempurna. Tapi itu wajarlah, namanya juga tidur di gunung haha..

Oh ya, Singgih dan Rizky akhirnya membatalkan niat untuk melanjutkan perjalanan pada tengah malam tuh :) Sempet turun gerimis juga malam itu, kucoba untuk menampung air hujan, tapi ternyata tidak berlangsung lama dan hanya rintik-rintik.

Sunrise - Lanjutkan Perjalanan
Sejak jam 4 pagi saya memang sudah terbangun dan memasak air minum juga menyiapkan makanan supaya saat melanjutkan perjalanan semua memiliki tenaga yang cukup, karena medan setelah Pos 3 ini langsung dihadapkan pada tanjakan yang ekstrim dan licin.

Sabana 1 gunung Merbabu
Sabana 1. Pemandangan elok selepas track nanjak diatas Pos 3. Aslinya lebih indah deh :)

Pagi itu menjelang sunrise sudah banyak pendaki berdiri berjajar dengan aktivitas masing-masing untuk menantikan moment terbitnya matahari. Meskipun tidak dinikmati dari puncak, tapi keindahannya tetap membuat kita kagum.

Selesai sudah prosesi menyaksikan sunrise, selanjutnya kita mempersiapkan  sebuah perjalanan menuju puncak. Persiapan selesai menjelang pukul 7 pagi itu.

Tanpa tunggu waktu lebih lama dan matahari semakin terik, kami lanjutkan perburuan kami ke puncak Merbabu. Sisa perjalanan kami adalah Sabana 1, Sabana 2, Watu Lumpang dan Puncak.

Setelah melalui track super licin dan menanjak, sampailah kami di Sabana 1. Sepanjang mata memandang hamparan rumput luas terbentang hingga ke arah bukit-bukit yang ada disana. Gunung Merapi tetap kokoh mengeluarkan asap dan ada dibelakang kita.

Ingin sekali rasanya berlama-lama disana, karena memang mata benar-benar dimanjakan dengan pemandangan indah yang tersaji. Asli indah banget! Salah satu spot yang indah di Merbabu.

Perjalanan kita lanjutkan lagi, meskipun saya harus melambat karena sesekali mengabadikan moment juga pemandangan disepanjang jalur. Akhirnya dalam waktu gak terlalu lama, kami sampai di Sabana 2 setelah menyusuri jalan menurun dan berpasir.

Api unggun
Api unggun untuk menghangatkan badan

Tak kalah indahnya dengan Sabana 1, di Sabana 2 juga tampak banyak tenda berdiri disana. Memang Sabana 1 dan Sabana 2 adalah area yang ideal untuk ngecamp, karena selain keindahan yang tersaji, angin disana juga tidak terlalu kuat dan yang penting jarak menuju puncak jauh lebih singkat. Satu jam perjalanan kita sudah bisa mencapai puncak *Syarat & ketentuan berlaku :)

Setelah melewati Sabana 2 ini kita akan menemukan track yang menurun, sedikit datar untuk kemudian nanjak lagi menuju pertigaan Watu Lumpang. Dari Watu Lumpang ini perjalanan kepuncak bisa kita tempuh dalam waktu 30-an menit melalui track yang terus nanjak, tapi tidak ekstrim. Kita bisa menikmati perjalanan di track tersebut dengan segala yang ada, karena sangat disayangkan jika kita melewatkan keindahan pemandangan yang tersaji disana.

Puncak

Tiit.. tiit.. tiik.. waktu menunjukkan jam 8:20 pagi, saat satu persatu dari kami berhasil mencapai batas tertinggi di gunung Merbabu. Berasa kita telah mencapai sebuah kemenangan bisa berdiri disana dengan keindahan bentang alam yang tersaji.

Sedikit selebrasi dan rasa syukur juga seperti biasa mengabadikan moment saat di puncak.

Cukup banyak juga pendaki saat itu dari berbagai daerah di Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Tengah dan bahkan pendaki manca negara dari Belanda yang sebelumnya sempat kita ulas dikit. Ternyata 3 orang diantaranya juga muncak di Merbabu meskipun harus bersusah payah tapi katanya puas dengan keindahannya. Bahkan mereka berencana akan melanjutkan perjalanan ke Lombok untuk mendaki Rinjani. Wow.. pengin ikut sebenarnya, tapi harus bersikap professional lah.. haha ada kerjaan yang gak bisa ditinggal lama-lama :) wkkk
Peta pendakian gunung Merbabu via Selo Basecamp Baru
Peta pendakian gunung Merbabu via Selo Basecamp Baru

Turun Gunung
Sekitar jam 10 pagi setelah merasa cukup bercengkrama dengan puncak akhirnya kami putuskan untuk turun gunung. Hal ini kita ambil juga dengan pertimbangan supaya siang sudah sampai di basecamp.

Dengan sigap den semangat serta tetap fokus kami susuri jalur menuju tenda kami melewati track yang tadi kami lewati.

Jalan, lari, luncat, ambil foto, petik arbey liar untuk sekedar cemilan ataupun sebagai pengganti air minum, karena memang sepanjang jalur selepas Pos 3 cukup banyak arbei liar yang tumbuh deng subur dan buah cukup besar.

Jam 11 : 20 kami telah sampai ditenda. Istirahat sebentar, lalu kita bongkar tenda dan repacking semua peralatan juga perbekalan yang ada untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan.

Semangat sekali kami saat itu. Entah apa yang ada di benak kami, pokoknya kami ingin cepat-cepat sampai basecamp.

Bener aja langkah kami seperti berlomba-lomba untuk segera sampai kembali di bukit Gancik. Sampai akhirnya kami benar-benar sampai disana dan istirahat cukup lama sambil meminum minuman penambah ion tubuh yang dijual oleh salah seorang warga Selo.

Sepanjang perjalanan ke bukit Gancik kami seringkali bercanda, bahkan melihat Rizky yang mulai merasakan sakit dikaki juga tidak mengurangi candaan kami dengan fokus pada apa yang dirasakan Rizky haha..

Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalur setapak yang menuntut kekuatan kaki, khususnya lutut dalam menahan berat tubuh. Sesekali kami jalan mundur supaya lebih nyaman.

Akhirnya sampai juga di basecamp menjelang jam 13:30 siang itu. Alhamdulillah sampai juga di garis start :)

Notulen Perjalanan :
  • Basecamp - Bukit Gancik - Pos 1 : 1 jam
  • Pos 1 - Pos 2 :  30 menit
  • Pos 2 - Pos 3 : 1 jam
  • Pos 3 - Sabana 1 : 30 menit
  • Sabana 1 - Sabana 2 : 30 menit
  • Sabana 2 - Watu Lumpang : 20 menit
  • Watu Lumpang - Puncak : 30 menit
*Bersifat tentatif tergantung situasi real yang dihadapi

Baca Kisah Sebelumnya dong :)

Saya Nyatakan Mundur Dari PDW 2016

Yes Outdoor : Melalui tulisan ini, saya Den baguse Hari  akan bercerita tentang sebuah pengalaman saya untuk mengambil keputusan yang sangat berat tetapi harus dilakukan. Jika kita dihadapkan pada 2 pilihan "YA atau TIDAK", terlepas dari segala konsekuensinya, maka kita harus benar-benar memahami pilihan yang kita ambil.

Baiklah saya lanjutkan kisahnya, ..keputusan saya untuk mundur dari kegiatan PDW 2016 yang sejatinya sangat saya idam-idamkan sejak lama adalah sebuah keputusan yang sangat susah, tapi ketika saya sudah mengambil sikap, maka hal itu tidak lantas membuat membuat saya menyesal, karena saya tahu itu adalah keputusan terbaik yang saya buat pada waktu itu.

Ada sebuah pepatah atau apalah namanya yang mengatakan bahwa "Penyesalan selalu datang di akhir (belakangan)!" Namun hal itu tidak berlaku untuk diri saya, khususnya pada kasus ini. Tentunya saya merasa bersalah kepada teman-teman, saudara dan pihak lain yang telah ikut  membntu dan memberikansuport yang luar biasa dll. Maaf sekali karena saya tidak dapat mewujudkan keinginan saya sendiri.

Singkat cerita kegiatan PDW 2016


Setelah melewati tahapan seleksi, rangkaian kegiatan PDW  berikutnya adalah Pra PDW 1 dan Pra PDW 2. Disinilah awal mula saya mulai ragu, bimbang dan ada semacam pergolakan dalam diri dan pikiran saya saat itu, "Apakah Saya akan tetap ikut dan melanjutkan semua tahapan PDW 2016 atau tidak?"

Pra PDW 1 dan Pra PDW 2 sudah saya ceritakan sebelumnya. Tanggal 29 dilakukan Gladi kotor upacara pembukaan PDW 2016 yang berlokasi di halaman Gedung Sate Bandung.
Mundur Dari PDW 2016

Sebelumnya, pada malam tanggal 28 Juli 2016 saya berangkat ke stasiun Gombong dengan diantar oleh kakak saya naik montor, eh motor. Hujan deras menemani perjalanan hingga tiba di stasiun. Hal itu bisa jadi sebagai awal yang  membuat saya kurangg fit esoknya. Parahnya lagi saat itu saya juga tidak mengenakan jas hujan. Parah euy.

Perjalanan gak cukup sampai disitu, bahkan ketika telah naik kereta api juga saya sudah merasakan hal yang tidak enak dengan kondisi didalam rangkaian. Bagaimana tidak? Dalam kondisi yang sedang tidak fit, diguyur hujan lalu harus diam lama dalam perjalanan kereta dengan AC yang cukup dingin.

Saya tidak terbiasa dengan kondisi seperti itu sebelumnya, tapi tetap berusaha untuk bisa bertahan. Kalau ada kang Jo mungkin saya sudah dikasih formula rahasia biar tetap sehat seperti waktu mendaki gunung Slamet. Sempat drop dan gak fit tapi bisa kembali melanjutkan setelah di wes hewes hewes dengan formulanya.. hahaha..

Akhirnya sampai juga di Bandung pada pukul 4 pagi. Saya tidak beranjak dari stasiun dan memilih untuk menununggu sampai shubuh. Setelah itu baru bertolak ke Taman Pramuka, karena acara akan dimulai dari pukul 7 pagi.

Kegiatan hari itu adalah cheklist kedua, sholat Jumat, latihan upacara di Gedung Sate, serta latian sedikit latihan fisikdengan berlari dari Taman Pramuka sampai Gedung Sate dengan mnggendong ransel.Selesai pukul 19.00 kami kembali ke Taman Pramuka. Akhirnya kegiatan hari itu ditutup dengan sebuah briefing tentang kegiatan esok hari.

Esoknya Sabtu 30 Juli, kami harus berkumpul sejak pukul 4.30 di Taman Pramuk. Untungnya saya menginap di Taman Pramuka, sehingga tidak terlalu repot, apalagi disana juga sudah kenal dengan salah seorang pemilik warung dimana kami biasa memesan makanan selama mengikuti kegiatan di Bandung.

Kembali lagi kami berlari ke Gedung Sate, dilannjutkan dengan  gladi resik upacara sambil menunggu semua undangan hadir di tempat dilaksanakannya upacara pembukaan PDW 2016.

Akhirnya pada jam 8 pagi upacara dimulai. Asli, ada perasaan bangga, sedih, kalut galau yang bersatu padu dalam diri saya ketika sedang mengikuti upacara pembukaan itu. Terlebih karena upacara tersebut juga dihadiri oleh tamu undangan yang juga merupakan ortu dari masing siswa (tentunya bagi mereka  yang rumahnya ada di sekitar Bandung). Diiringi alunan musik dari Korps Militer Paskhas, sert dibuka oleh Gubernur Jabar pak Aher selaku inspektur upacara. Selesai upacara, kami foto-foto bersama.

Kembali lagi ke Taman Pramuka, kami diberi pengarahan, bahwa kegiatan baru saja dmulai. Genderang perang baru ditabuh. Saat itulah benar-benar mulai terasa.. Dan pada pukul 12 siang kami semua mengikuti ishoma, dilanjutkan dengan ceklist ke 3 dan briefing kegiatan esok hari.

Tapi rupanya tidak semudah itu, karena malam itu kami harus bekerja keras unttk mengumpulkan peralatan perbekalan yang masih kurang dengan batas waktu pukul 22.00. Bisa kebayang dong seperti apa kacaunya waktu itu? Bagaimana tidak, baru pukul  8 malam  bubar, tapi sudah  harus melengkapi semuanya dengan batas waktu sampai pukul 22.00. Maka malam itu banyak dari siswa yang keliling Bandung untuk membeli ini dan itu yang belum lengkap.

Oia ding... Kenapa masih saja banyak yang kurang? Itu terjadi karena memang  dari panitia ada tambahan item yang harus dibawa. Contohnya adalah  jarum suntik, second skin, pinset dan yg paling susah plastik packing, karena harus yang tebal. Padahal saya sudah dua kali beli waktu masih  di kampung, tapi  masih gak berlaku. Kalau sesuai dengan yang ada di form form cheklist, sebenarnya kami sudah lengkap. Tapi rupanya tidak semua sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh panitia. Asem.. mumet kiye.

Setelah bergerilya diberbagai lokasi, akhirnya lewat tengah malam kami baru bisa tidur malam yang tidak nyenyak. Bagaimana mau tidur nyenyak? Perut lapar, kepikiran banyak hal dan yang pasti jam 2:30 sudah harus bangun dan jam 3:30 kami semua harus sudah berkumpul lagi euy.

Makanya kalau ada yang nanti ingin mengikuti PDW selanjutnya, supaya benar-benar dipersiapkan segalanya dengan matang dan sesuai standar yang ditetapkan panitia. Dan harus juga bisa memanfaatkan waktu istirahat, berapapun waktu yang ada.

Mundur Dari PDW 2016

Absensi dan shubuhan berjamaah, barulah kegiatan hari itu dilanjutkan. Pukul 5.30 longmarch dan dibuat per regu berisi 5 siswa. Saya masuk ke regu 14. Perjalanan pagi itu kami jalani dengan menyusuri jalan Martadinata, Dago, Cieumbuluit, Unpar, PLucut apa Punclut ya aku lupa haha, selanjutnya menuju ke arah pasar Lembang, Jayagiri dan Tangkuban Parahu.

Pos 1 ada di Hegarmanah (seinget saya). Kondisi saya masih oke. Tiap pos juga ada pengisian air minum. Selanjutnya mulai terasa berat karena jalan aspal menanjak hampir 40 derajat kali ya? Sebenarnya kami sempat diberi air untuk membasahi kepala dan topi krn teriknya mentri siang itu. Pukul 10 atau 11 lah.

Pos 2 berlokasi di alun-alun Lembang. Saat itu juga saya masih dalam kondisi ok. Teman-teman yang lain mulai ada yang tertinggal yang mengakibatkan kami sering mendengar teriakan-teriakan dari pelatih agar  "Rapatkan barisan tuan!" *tuan sebutan untuk siswa PDW*

Selepas Pos 2, kami masuk area perhutani di wilayah Jayagiri. Masih di Lembang. Tapi sebenarnya saya lupa nama persisnya karena saat di gerbang masuk saya tak sempurna mengeja tulisannya. Apa yaa?

Nah, dilokasi inilah saya mulai  drop. Kondisi hampir sama dengan pendakian Slamet 2014 lalu, dimana tenaga sudah habis hingga untuk melangkahkan kaki pun sudah terasa berat, pusing, mual. Dan.. saya mulai tertinggal.

Kalau ada kang Jo mungkin saya sudah dikasih formula rahasia biar tetap sehat seperti waktu mendaki gunung Slamet. Sempat drop dan gak fit tapi bisa kembali melanjutkan setelah di wes hewes hewes dengan formulanya.. hahaha..

Sementara regu saya terus berjalan, saya malah  bergabung dengan teman-teman lain yg tertinggal juga. Saya mulai putus asa. Ada keinginan untuk mundur saat itu juga, tapi saya tahan berkat suport dari senior/pelatih kang Ardesir. Saya bisa bertahan sampai masuk ishoma 12-12.40 .

Lanjut, mulai masuk hutan, bertemu dengan rombongan montor cross apa moto cross ya? Sempat salah jalur juga tuh. Gak cuma sekali dua kali tapi berkali-kali. Mungkin itu tanda-tanda terselong haha...  Jika dikalkulasi maka  waktu yang terbuang karena salah jalur sekitar 2jam.

Akhirnya pukul 16 bertemu dengan rombongan depan yang mengarah ke Tangkuban Parahu.  Kondisi ramai dan saya sudah berada di barisan belakang ditemani oleh kang Ardesir yang terus mensuport saya.

Saya berusaha untuk setidaknya bisa sampai di kawah Tangkuban Parahu, begitulah apa yang dikatakan kang Ardesir. Sementara rombongan besar terus melaju meninggalkan saya.

Kemudian saya sempat bergabung dengan mereka pada pukul 17 sore, persis di atas kawah Tangkuban Parahu. Disanalah saya memutuskan untuk tidak ikut melanjutkan sesi berikutnya dari PDW 2016. Meskipun berkali-kali pelatih mensuport  saya untuk terus lanjut, tapi keputusan saya sudah bulat.

Hingga akhirnya badge nama dan nomor saya dilepas, mengisi surat pernyataan yang intinya menyatakan bahwa "Dengan ini saya resmi mundur dari kegiatan PDW 2016".

Mundur Dari PDW 2016

Sekedar informasi saja nih. Sebelum kejadian badge dilepas, saya sudah berkali-kali muntah dan sempat dicek oleh tim dokter PDW. Mereka menyatakan bahwa saya mengalami kekurangan elektrolit. Selain faktor fisik, ada juga faktor lain yang membuat saya mundur. Tapi maaf, saya tidak bisa menceritakan disini.

Selanjutnya saya diantar turun ke Bandung oleh panitia, menginap di sekre Wanadri, paginya bertolak ke Taman Pramuka, pesan tiket kereta. Sambil menunggu malam, saya banyak ngobrol dengan pemilik warung di Taman Pramuka sampai menjelang jam 7 malam.

Akhirnya saya segera melanjutkan langkah menuju stasiun Kiara Condong untuk kembali pulang menggunakan kereta api yang akan berangkat pukul 9 malam.

Ada rasa berat hati untuk meninggalkan Taman Pramuka dan juga penghuninya (abah Edi, ibu pemilik warung, terimakasih semuanya..,)

Sekian kisah ini saya sampaikan. Untuk teman-teman yang akan mengikuti kegiatan PDW selanjutnya saya berpesan

Supaya benar-benar mempersiapkan diri secara maksimal dan benar-benar fokus pada kegiatan tersebut. Ada baiknya juga untuk tinggal sementara di area Bandung supaya memudahkan kita mengikuti seluruh prosesinya juga bisa beradaptasi dengan lingkungan disana serta mendapatkan banyak informasi penting terkait kegiatan PDW.
.

03 Agustus 2016

Pendakian Merbabu Via Selo - Part 1

Yes Outdoor : Pendakian spartan biasanya dilakukan pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan seperti gunung Sumbing - Sindoro ataupun gunung Merapi - Merbabu.

Salah satu alasan melakukan pendakian spartan adalah untuk menghemat waktu dan juga ongkos perjalanan jika harus menuju lokasi yang berdekatan di lain waktu :)

Ini merupakan sepotong kisah pendakian Spartan Merapi - Merbabu via Selo sebagai pengganti rencana yang gagal untuk menuju atap Sumatera karena sesuatu dan lain hal :)

Siang itu setelah  menyelesaikan pendaki gunung Merapi dan mengambil ID Card yang disimpan di basecamp, kami segera meluncur ke basecamp pendakian gunung Merbabu di desa Selo.

Saya menyarankan untuk menggunakan jasa ojek karena memang jarak yang cukup jauh dengan track yang menanjak setelah turun dari basecamp Barameru.

Di Selo sendiri untuk mendaki Merbabu ada dua basecamp yang biasa digunakan untuk melakukan pendakian yaitu Basecamp Selo (Lama) dan Basecamp Selo Baru.

Pendakian gunung Merbabu
Nampak gunung Merapi dari samping basecamp  Selo Baru

Kami memilih untuk mendaki melalui basecamp Selo Baru di rumah pak Sunar atau pak Wandi. Bisa dihubungi di 0815-6767-0840

Untuk menuju ke basecamp tersebut dari basecamp Barameru menggunakan ojek dinekakan ongkos 25 ribu. Sebenarnya bisa aja sih ditawar 20 ribuan, tapi kami gak melakukannya :)

Dengan melewati jalur menuju pasar Selo, sampai di kantor Polsek Selo motor langsung ambil kiri ( bisa juga lewat pertigaan berikutnya setelah kantor Polsek Selo) mengikuti jalur tersebut. Biasanya tukang ojek sudah tahu jalur tersebut, dan kita akan diantarkan ke sebuah Pos di perempatan jalan untuk didata sekaligus membayar Simaksi. Disana juga akan ditanya mau lewat Selo Baru atau yang lama.

Next, setelah prosesi selesai, perjalanan dilanjutkan menuju basecamp Selo baru seperti yang telah disebutkan tadi. Gak terlalu jauh letaknya, mungkin 400 - 500 meter tapi jalurnya memang nanjak. Sedangkan untuk basecamp Selo Lama letaknya memang lebih jauh, jadi wajar jika ongkos ojek minta 25 ribu, makanya kalau ke basecamp Selo Baru bisa aja ongkosnya kurang dari 25 ribu karena memang lebih dekat jaraknya.

Basecamp Selo Baru

Akhirnya sampai juga di basecamp tersebut yang disambut oleh pak Sunar juga seorang ibu dengan penuh keramahan. Terlihat di ruang sebelah nampak cukup banyak terparkir motor yang menandakan  ada banyak pendaki yang sedang naik.

Kami tidak ke ruang tersebut, karena sang tuan rumah segera menyiapkan ruang lainnya dengan gelaran karpet dan tikar untuk menjamu kami. Berasa suhu sore itu lebih dingin dari biasanya. Hal itu juga diaminkan oleh pak Sunar "Betul sekali, beberapa hari ini memang terasa lebih dingin". Saat di cek suhu ada di angka 20ยบ C. Cukup dingin untuk ukuran kebanyakan orang.

Sore itu kami tidak langsung melakukan pendakian, dan lebih memilih untuk beristirahat semalam untuk menjaga kondisi tubuh setelah kurang istirahat dari Jakarta dan pendakian Merapi sebelumnya.

Pada kesempatan itulah, justru kami jadi merasa lebih dekat dengan tuan rumah yang banyak berbagi informasi tentang jalur pendakian maupun hal-hal lain terkait kehidupan masyarakat di desa Selo tersebut.

Ada angin segar nih bagi teman-teman yang ingin coba mendaki dari sana, bahwa kalau memang ingin mudah sampai di basecamp, pak Wandi bisa menjemput kita di terminal ataupun stasiun.

Peta pendakian gunung Merbabu via Selo Baru
Peta pendakian Merbabu via Selo Baru

Biasanya dia menjemput dan juga mengantar pada pendaki dari Solo, Semarang, Boyolali dan sebaliknya. Mengenai ongkosnya, silahkan coba menghubungi nomor diatas deh :) Bukannya pelit berbagi info, tetapi akan lebih baik jika mendapatkan informasinya langsung dari pihak terkait hehe

Nasi Goreng, Teh Manis, Kasih Makan Sapi
Setelah melakukan pendakian Merapi, ternyata perut merasakan lapar dan baru dirasakan sore itu. Langsung aja kami pesan makanan. Biar badan berasa hangat, segera kami pesan nasi goreng dan teh manis.

Sambil menunggu pesanan kami menyempatkan diri untuk membereskan barang bawaan juga membersihkan badan di kamar mandi. Berr.. dingin banget airnya.

Akhirnya yang ditunggu sampai juga. Nasi goreng hangat yang masih mengepulkan asapnya menyebarkan aroma yang mampu membangkitkan  selera makan. Gak butuh waktu lama, sajian hangat itu telah habis bersih.

Rupanya kami juga penasaran dengan sapi yang ada disana, karen berukuran cukup besar. Mungkin karena memang suka binatang, maka kami minta ijin untuk memberi makan rumput untuk sapi. Kebetulan disetujui. Wah benar saja sapi itu juga lahap memakan rumput. Tarikannya sangat kuat.

Pendaki Turun Gunung
Sore hingga malam itu memang banyak pendaki yang turun dari Merbabu. Terlihat muka-muka lelah dan kusam karena mengalami hal yang mirip dengan kami di Merapi. Apalagi kalau bukan hujan dan badai.

Tahu sendiri kan track merbabu yang kebanyakan tanah liat? Tentunya licin yang membuat kita harus mengeluarkan ekstra tenaga dan konsentrasi. Itu juga yang mereka alami.

Obrolan Malam - Tidur
Malam itu kembali kami ngobrol banyak hal dengan pak Wandi. Didapur! Ya di dapur sambil menghangatkan badan dekat perapian.

Obrolan berlanjut sampai gak terasa malam semakin larut. Mungkin kalau mata gak memberi komando untuk tidur, bisa jadi obrolan berlanjut sampai pagi wkk..

Nah karena sudah ngantuk, akhirnya kami putuskan untuk tidur. Istirahat semalam dengan harapan stamina kembali fit untuk pendakian esok hari. Ya, kami memilih pendakian siang hari.

Saat terbangun sekitar jam 4 pagi, terdengar ada pendaki yang baru datang. Tapi karena suhu yang dingin membuat enggan untuk segera keluar dari sleeping bag haha..

Sampai akhirnya kami tahu siapa mereka dan darimana saat terjadi interaksi. Rupanya mereka dua orang pendaki dari Halmahera dan Pare Pare yang kebetulan kuliah di Yogya.

Tanpa ada kesepakatan apapun, entah bagaimana mulanya, mereka akan mendaki bersama kami. Syukurlah, jadi nambah teman lagi, setelah dari Merapi juga harus melepas dua orang pendaki asal Jakarta yang gak jadi naik ke Merbabu.

Selanjutnya kami kembali siapkan segala hal untuk pendakian pagi itu. Apa yang harus dibawa dan juga bikin rencana istirahat (ngecamp). Akhirnya kami putuskan untuk mendaki pada jam 9 pagi.

Baca lanjutannya deh Pendakian Merbabu Via Selo - Part 2

02 Agustus 2016

Pendakian Gunung Merapi Yang Penuh Cerita

Yes Outdoor : Salah seorang pendaki yang  pernah berbagi kisahnya dalam pendakian sebelumnya ke Sumbing dan Sindoro kembali berbagi dengan Yes Outdoor dalam kisah perjalanan dari pendakian gunung Merapi yang baru saja ia lakukan.

Berikut ini adalah kisahnya :

Untuk kali ini w mau cerita tentang pendakian mt. Merapi yang baru saja w jalanin kemaren (25 Juli 2016). Ini adalah pendakian ketiga w di Jateng.

Sebuah pendakian yang meninggalkan banyak kesan di mt. Merapi. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertama w ke sana, makanya agak lebehh. Haha.

Sudah-sudah mari fokus denger cerita w dari awal w nyobain naik kereta ekonomi AC turun di Lempuyangan (Jogja). Mulai dari dikreta, w udah ngerasain sakit karena tempat duduknya yang tegak lurus jadi berasa ga enak waktu duduk, jangankan buat tidur, buat nyender juga kaya sakit tulang rusuk w.

Ditambah lagi ada ada mba-mba yang jail foto w karena dia gak suka kakinya yang selonjoran w geser dikit untuk berbagi ruang. Lagian kocak, dia beli bangku 1 pengennya 2. DIfikir beli ciki disupermarket kali ya? Beli 1 gratis 1 haha.

Pendakian gunung Merapi
Senja menjelang Pos 2

Dia ngambil foto w pas lagi merem mencoba menyamankan diri dalam perjalanan dan tempat duduk yang sandarannya vertikal. Dikiranya w gak tahu.

Setelah dia ambil foto w, gak mungkin dong w hanya diam seolah gak ada apa-apa? Selanjutnya gantian w yang beraksi memotret mbak-mbak itu tanpa sembunyi-sembunyi seperti yang dilakukannya. Haha

Rupanya dia juga mau ikutan aksi w tadi.Terus dia mau ngikutin aksi w dalam memotret. Langsung z w serang dengan kata-kata "Hey mbak, kalau gak mau diusilin jangan usil ke orang, dikira w kga tahu yang mbak lakukan?". Hanya gertak sambal sih, biar dikira w galak, padahal sih dalam hati w ngakak. Ah, sudahlah.. bukan kisah yang asik untuk dijabarkan disini haha

Sekitar jam 7 pagi, akhirnya kereta sampai juga di stasiun Lempuyangan. Gak nunggu lama perjalanan dinlanjutkan mencari angkutan menuju terminal Jombor untuk meluncur ke Blabag.

Sebenarnya sih jalur ini kurang direkomendasikan karena kendaraan yang terbatas dari Blabag ke Kopeng, tapi gak apalah kita lewat sana. Ohya, kalau dari Solo bisa naik bus jurusan Semarang (atau sebaliknya, Semarang - Solo) minta turun di Surowedanan dan lanjut  ke Cepogo yang gak jauh kok. Bisa jalan kaki. Biasanya kondektur udah tahu kalau kita memang mau ke Merapi atau Merbabu via Selo.
Pendakian gunung Merapi
Anak SD itu imut-imut :)


Nantinya dari sana perjalanan dilanjutkan dengan mobil menuju Selo. Tapi ingat, sebaiknya dilakukan pagi hari karena kalau sudah sore kendaraan akan semakin susah didapat.

Lanjut perjalanan ke Blabag

Perjalanan dari Jombor - Blabag cukup murah sih, hanya 10 ribu rupiah kita bisa turun di perempatan Blabag. Sesampainya disana menyempetkan dulu belanja logistik yang masih kurang.

Setelah selesai belanja, selanjutnya mencari angkutan ke arah Tlatar. Kebetulan saat menunggu angkutan, ketemua sama ibur-ibu mau naik angkot yang sama. Sempat ngobrol santai kita disana tentang keadaan jalan juga asal usul kami haha.

Beberapa menit kemudian angkot muncul, pas naik terus duduk ditengah ibu-ibu tua (sebenarnya semuanya ibu-ibu tua, kakek-kakeknya cuma 1). Baru nempel tuh di bangku, w diserang beberapa pertanyaan sekaligus sama mereka yang ada didalam angkot hampir bersamaan. Kompak banget dah mereka nanya. Dari mana? Mau kemana? Sama siapa? Asli mana? Banyak deh, rata2 pakai bahasa Jawa, yang cuma w hadepin dengan senyuman, karena memang w kagak ngerti pertanyaan mereka sampai akhirnya mereka sadar ada makhluk asing memasuki kawasannya haha.

Ada pertanyaan yang masih w inget, "Mau kemana?" W jawab "Ke Selo". Terus 4 orang ibu-ibu lainnya langsung nanya balik lagi "Mau ke Selo apa Celo?" Wah w langsung ngelirik sih gimbal yang jadi kenek, berdiri di pintu samping. Karena w gak tahu cara bacanya Selo itu gimana. Haha...

Selanjutnya  ada anak kecil juga naik angkot, dengan ramahnya mereka senyum manis manja gitu ke w. Gak tahu w yang lebay, apa emang w cantik, makanya mereka pada senyum-senyum. W tanya mereka kelas berapa, karena mereka benar-benar masih kecil imut-imut.

Mereka emang masih kecil, baru kelas 1 SD. W cuma bisa bilang hebat ke mereka, karena udah berani naik mobil sendiri. Dengan bangganya mereka bilang "Iyah, biar berani!"

Ada juga anak kecil sama ibunya, umurnya baru 3 tahun tapi berat badannya 32 kilo. Bisa bayangin dong gedenya segimana? Asli sekel bgt badannya. Haha

Dalam perjalanan itu kami terlibat obrolan akrab dengan semua penumpang termasuk pak dhe supir, karena memang orang-orang disana ramah-ramah.

Gak kerasa sampailah w di Tlatar. Harusnya nyambung angkot lagi ke Selo, tapi karena kami gak mau berlama-lama disana setelah semaleman merasakan perjalanan jauh Jakarta - Yogya yang bikin penat, akhirnya kami carter satu angkot.

Ya kami carter 1 angkot, karena kalau harus menunggu penumpang lain akan butuh waktu lebih lama lagi. Dan benar aja, rupanya sopir juga bisa ngebaca kalau kami ingin cepat sampai. Akhirnya mereka menawarkan untuk carter aja dengan tarif Rp.120.000 sampai basecamp Barameru di kaki Merapi.

Kami gak tahu harga normal carter disana berapa, tapi daripada harus berlama-lama akhirnya terjadilah sedikit nego dan hargapun mendapat discount 10 ribut menjadi Rp.110.000.

Segera sopir tancap gas, menuju Selo melalui jalan yang berkelok dan naik turun serta beberapa bagian rusak dan sebagian lagi sedang dalam perbaikan.

Akhirnya menjelang tengah hari sampai juga kami di basecamp  Merapi. W cuma numpang makan bekal dari mamah, terus tiduran merebahkan diri sebentar.

Jika mau nyaman istirahat di kaki merapi, bisa mencoba Homestay Satria, yang kebetulan kami sempat ngobrol banyak dengan yang punya saat sedang di basecamp Merbabu.

Pendakian

Setelahnya langsung mengurus simaksi dan membayar Rp.16.000 per orang sebagai pengganti tiket masuk. Persiapan dan planing segera dijalankan, dan pada pukul 2 siang lebih sekian kami mulai melangkahkan kaki kami menyusuri jalan menuju jalur pendakian Merapi yang dari basecamp itu langsung nanjak.

Oh ya sebelumnya kita berdoa dulu. Pokoknya jangan pada lupa berdoa sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan termasuk pendakian ya!

Track yang dilalui hampir-hampir gak ada bonus, nanjak dan nanjak terus yang banyak ditemui. Maklum aja, ini kan naik gunung ya? haha.

Pendakian gunung Merapi
Pose berantakan di Pasar Bubrah saat badai melanda :)

Memang naik gunung sih, tapi ini sepertinya gimana gitu? sampai-sampai w ngomong sendiri "ini Ga ada bonus apa?" Asli engap, boros nafas dibuatnya.

Perjalanan terus dilakukan dengan santai sih, sampai kami sampai di Pintu Rimba atau Pintu Pendakian gunung Merapi. saat itu, itulah bonus yang kembali memompa semangat untuk segera muncak. Haha..

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan sampai menemukan Pos 1 ( Watu Belah ). Gak lama sih, mungkin 30 menitan. Disana hanya membaca petunjuk jarak dan waktu yang biasa ditempuh secara normal sambil sesekali melakukan dokumentasi perjalanan.

Sampainya di Pos 1 kabut sudah mulai datang menghampiri dengan membawa hawa dingin yang menyejukkan. Sama seperti di Pintu Rimba, kami juga mendokumentasikan perjalanan hingga ke Pos 1 ini. Foto-foto dikit sambil ngumpulin nafas dan lanjut perjalanan menuju Pos 2.

Dalam perjalanan menuju Pos 2 ini track masih tetap menanjak dengan kombinasi batuan disana sini. Jadi harus selalu waspada supaya tidak kepleset ataupun nendang batu. Sayang kaki kita haha

Pendakian gunung Merapi
1.. 2.. 3.. Klik

Nah, dalam perjalanannya mendaki Merapi, track menuju Pos 2 kami menemukan moment yang amat sayang untuk dilewatkan. Pemandangan yang indah dengan semburat warna langit begitu menawan.

Dengan kesadaran penuh, akhirnya foto-fotolah di jalur itu untuk mengabadikan momen yang langka dan tidak kita temukan di Jakarta.

Tidak berdiam hanya di satu tempat tapi sepanjang perjalanan sambil mencari spot yang indah untuk berfoto. Karena kita memang tahu perjalanan ke lokasi yang direncanakan untuk ngecamp di antara Pos 2 dan Pasar Bubrah tidaklah terlalu memakan banyak waktu.

Foto foto foto foto, gaya ini gaya itu, pose begini pose begitu, atur kamera, pindahkan tripod dll sangat sering dilakukan hingga hari menjelang senja dan senja benar-benar datang waktu itu.

Sampai tiba waktunya sunset dan cahaya langit mulai redup, kami percepat langkah kaki menuju Pos 2 dan langsung dilanjutkan ke lokasi untuk ngecamp.

Dalam perjalanan itu, ketemulah kami dengan dua pendaki lain asal Jakarta dan bersama-sama melanjutkan perjalanan ke lokasi ngecamp. Sampai diarea yang cukup ideal, kami segera mencari lokasi dekat pohon cantigi untuk mendirikan tenda supaya terlindung dari tiupan angin yang  saat itu bertiup lumayan kencang hingga hawa dingin makin menusuk tulang.

Pendakian gunung Merapi
Berasa beku saat berlinduang dibalik batu

Turunkan ransel, bongkar, keluarkan tenda, pasang tenda. Itulah yang kami lakukan sampai tenda benar-benar berdiri dan barang-barang kami masukkan kedalamnya.

Langit nampak cerah waktu itu, sampai sekitar pukul 10 malam mulailah angin besar bertiup makin kencang menggoyangkan tenda.

Asli dingin bangettt... Hal ini berlanjut sampai pagi, bahkan jam  5.30 pun angin masih tetap saja bertiup dengan kencang, meski tidak sekuat beberapa jam sebelumnya.

Sambil menikmati moment sunrise, para pendaki mulai melanjutkan perjalanan menuju Pasar Bubrah. Termsuk dua orang pendaki asal Jakarta yang bertemu kami sesaat sebelum Pos 2 dan mendirikan tenda di lokasi yang sama.

Mereka langsung ke atas, sedangkan w lanjutin tiduran dulu sampai jam 06.30. Langsung berkemas, mempersiapkan bekal yang akan dibawa summit attack.

Ketika melalui pertengahan jalur Pos 2 ke Pasar Bubrah  angin yang disertai kabut semakin liar bertiup. Hal itu mengakibatkan terbatasnya pandangan, bahkan hawa dingin juga semakin kuat menyerang.

Pendakian gunung Merapi
Tempat menarik nafas dan menghitung lama perjalanan :)

Untuk mengatasi hal tersebut, dalam perjalanannya w sesekali berlindung dibalik batu. Hanya suara-suara angin disertai tebalnya kabut yang menelan teriakan para pendaki yang bisa dinikmati tanpa melihat sosok-sosok para pendaki Merapi dengan jarak lebih dari 5 meter. u


Benar-benar sebuah perjalanan yang berat waktu itu, bahkan pendaki dari atas sudah mulai pada turun. Beberapa orang turis asing bahkan jas hujan plastik yang dikenakan nampak robek berantkan dan terdengar suara seperti sedang ditarik-tarik akibat diterjang badai waktu itu.

Dalam situasi genting itu, sih gimbal coba bikin suasana tenang dan mengalir dengan mengabadikan moment itu. Yang entah gimana bikin w jadi menikmati kondisi saat itu dengan tingkat kepanikan tidak sehebat sebelumnya. Tapi mungkin videonya tidak disertakan disini karena w belum sempet mindahin video yang merekam moment mendebarkan itu.

Hanya jalan dan berlindung dibalik batu yang kami lakukan sambil coba diabadikan moment yang ada. Sempat ada pilihan saat itu dalam suasana badai yang menerjang kami yaitu terus maju ke Pasar Bubrah atau turun ke tenda (Pos2).


Tapi dengan hati-hati w lanjutin jalan ke pasar bubrah. Penglihatan juga cm setengah meter lebih dikit pada beberapa moment badai tersebut. Semua ketutup kabut dan tiupan angin. Saat itu menjadi sebuah perjalanan yang sempet bikin w gak yakin sama diri w sndri buat smpai Pasar Bubrah maupun kebawah.

Akhirnya dengan motifasi dan petunjuk yang w terima, sambil mengatur ritme sampai juga kami di  Pasar Bubrah. W langsung  stop disana dan berusaha mengabadikan dengan foto-foto cantik haha. Tapi hal itu gak kesampaian karena badai benar-benar parah yang membuat badan w melayang atau terlempar sambil terus berusaha keras menahan, mencari pegangan dan perlindungan biar gak benar-bernar terlempar jauh.

Setelah sempat ambil beberapa foto, kita putuskan untuk tidak berlama-lama disana. Lagian memang muncak di Merapi itu dilarang! Tujuannya ya demi keselamatan pendaki dan gak bikin repot banyak fihak kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pendakian gunung Merapi
Pose menjelang senja
Setelah sepakat untuk menuju tenda, kami sempat berdoa supaya berhasil sampai disana. Dan w sempet bilsng ke gimbal "Aduh aku gak yakin kuat sampai bawah karena badainya semakin besar!".

Tapi dengan  visi misi yang si gimbal kasih, w berusaha sampai ke tenda. Sesekali dia kasih petunjuk track yang sebaiknya dilalui. Dan alhamdulillah sampailah kita ke tenda dengan perjuangan yang amat sangat berat dan menegangkan.

Setelah sampai disana, kita istirahat sesaat sambil menikmati manisnya melon dalam balutan badai dan angin dingin. Benar-benar nikmat yang harus disyukuri.

Setelah semua dirasa cukup, kami semua bongkar tenda, packing dan melanjutkan perjalanan turun dalam guyuran hujan rintik-rintik.

Selangkah-demi selangkah kami berempat menyusuri track yang mulai licin akibat air hujan. Sesekali dengkul berasa gemetar karena harus menopang berat badan dalam medan yang licin.

Sampai juga kami di Pos 1 dan ketemu dua orang pendaki kakak - adik asal Boyolali yang sedang istirahat disana, berteduh dari hujan yang mengguyur.

Sesaat kemudian saat mulai reda, mereka lanjut ke atas, dan kami juga melanjutkan perjalanan turun. Tapi ternyata mereka batal muncak karena memang situasinya kurang menguntungkan, apalagi jarak rumah mereka ke Merapi tidaklah jauh, jadi bisa setiap saat ke Merapi.

Dalam perjalanan turun itu, ketika sampai di Pintu Rimba, lagi-lagi kami ketemu serombongan pendaki asal Jakarta dalam jumlah yang lebih besar, 8 atau 9 orang deh.

Pendakian gunung Merapi

Minum-minum teh hangatlah kita disana sambil nunggu hujan reda untuk selanjutnya perjalanan kami lanjutkan. Makin ramai aja kondisi saat itu. Maklumlah saat orang-orang gunung udah ketemu, mereka becanda dan ngobrol tentang banyak hal, termasuk kekocakan yang tercipta saat itu.

Akhirnya perjalanan yang tinggal sekian menit kita lanjutkan bersama dalam pasukan cukup besar menuruni setapak menuju New Selo. Isitrahat lumayan lama disana, bahkan sempat ngemil dan minum teh hangat lagi dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan ke basecamp Barameru.

Sampai basecamp w dan 9 orng pendaki yang tadi ketemu di pintu gerbang rimba itu ngeracuni 2 orang teman w buat lanjutin ke Merbabu bareng w, karena memang w berencana lanjut ke Merbabu via Selo.

Tapi karena kerja dan kedisiplinan yang bagus mereka berdua gak lanjut ke Merbabu.

Sekian cerita Mt Merapi tgl 25-26 Juli 2016
Neng Rini